Setahun lalu penulis bertandang ke Nusa Penida, sebuah pulau kecil di arah tenggara Pulau Bali, untuk mendokumentasi, mencatat, mentranskripsi, dan memetakan keberadaan sastra lisan. Kering, gersang, tandus, itulah kesan yang melekat pada setiap orang yang sempat berkunjung ke sana. Akan tetapi, khazanah sastra lisan tidak identik dengan kesan tersebut.